Meutiaranews.co – Meskipun mendapat kritik yang kurang baik dari para pengkritik, live action Avatar: The Last Airbender telah menjadi serial yang benar-benar saya nikmati hingga akhirnya. Nostalgia sangat kuat dirasakan oleh para penggemar animasi yang ditayangkan hampir dua dekade yang lalu.

Mengadaptasi animasi legendaris yang sangat dicintai oleh para penggemar selama bertahun-tahun tentu bukan tugas yang mudah dan merupakan tanggung jawab besar bagi tim produksi dan para bintangnya.

Mereka harus tetap mampu menghibur para penggemar dan membangkitkan kembali kenangan dengan tayangan favorit, sekaligus menarik perhatian penonton baru.

Serial yang dikembangkan oleh Albert Kim ini jelas terlihat berusaha mempertahankan inti cerita Book One: Water versi aslinya dalam live action, meskipun dengan pendekatan penceritaan dan perspektif yang baru.

Perbedaan dalam penceritaan terasa sejak opening credits hingga penutup episode kedelapan musim pertama.

Hal ini menghasilkan penambahan beberapa karakter yang sebelumnya tidak muncul dalam Book One, namun muncul dalam musim pertama live action Avatar: The Last Airbender.

Meskipun demikian, perubahan-perubahan tersebut berhasil menyatu dengan baik dengan alur cerita versi asli. Demikian juga dengan penambahan cerita yang mendalam untuk mengenali lebih baik para karakter, yang tetap sangat dinikmati.

Pendalaman karakter dan sudut pandang baru ini terutama terasa kuat untuk kisah Air Nomads, khususnya saat Aang bersama Gyatso, serta Zuko dan prajurit Negara Api yang menemaninya.

Meskipun memiliki penceritaan yang berbeda, tim produksi berhasil menjaga visual dalam live action tetap memikat. Penggambaran dari setiap suku, termasuk lokasi, pakaian, dan properti mereka, benar-benar setia dengan versi animasinya.

Apresiasi saya diberikan kepada tim casting. Bintang-bintang muda seperti Gordon Cormier, Kiawantiiio, Ian Ousley, dan Dallas Liu berhasil dengan baik membawakan karakter masing-masing, yaitu Aang, Katara, Sokka, dan Zuko.

Pilihan untuk menghadirkan aktor dengan usia yang tidak jauh dari karakter asli membuat adaptasi terasa alami. Gordon, sebagai Aang, terlihat sangat menyenangkan, menciptakan suasana seperti anak seusianya dengan semua tingkah laku khasnya.

Khususnya, saya memberikan penghargaan kepada Dallas Liu. Dalam beberapa kesempatan, ia mengungkapkan dirinya sebagai penggemar animasi Avatar: The Last Airbender, yang terbukti dalam perannya sebagai pewaris takhta Negara Api. Dallas Liu berhasil membawakan karakter Zuko dengan baik.

Pujian setinggi-tingginya juga saya tujukan kepada dua aktor senior, Paul Sun-Hyung Lee dan Lim Kay Siu, yang memerankan Uncle Iroh dan Monk Gyatso dengan sangat baik. Kehadiran mereka selalu berhasil menciptakan adegan yang penuh emosi.

Begitu juga dengan Arden Cho sebagai June dan Maria Zhang sebagai Suki.

Unsur lain yang memicu rasa nostalgia para penggemar adalah skoring dan efek suara yang begitu akrab di telinga. Tim produksi tanpa ragu memasukkan instrumental untuk salah satu adegan paling menyedihkan dalam serial, baik versi animasi maupun live action.

Aspek lain yang patut diapresiasi adalah bending (pengendalian elemen). Tim produksi dan para pemain terlihat bekerja keras untuk memastikan bending terlihat nyata di depan kamera, melalui latihan seni bela diri yang intens, didukung oleh CGI dan VFX yang mulus.

Meski menghibur, live action ini tetap memiliki beberapa catatan. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah perubahan dalam penceritaan dan karakter tertentu.

Perubahan secara keseluruhan dalam penceritaan dan perspektif masih dapat diterima. Namun, tidak dapat disangkal bahwa ada beberapa adegan yang disayangkan diubah, seperti perjalanan Aang, Katara, dan Sokka di Omashu.

Reuni Aang dan Raja Bumi seharusnya menjadi salah satu momen yang sangat menyenangkan dalam Book One. Namun, sayangnya, banyak bagian yang diubah oleh tim produksi, termasuk cara Aang mengingat Bumi, gim-gim yang diberikan oleh Bumi, hingga karakter Bumi itu sendiri.

Tim produksi juga meredam beberapa karakter, terutama Sokka. Meskipun Ian Ousley berhasil memberikan sentuhan humor pada karakternya, unsur seksisme Sokka hilang dalam live action. Padahal, sifat ini sangat melekat pada karakter Sokka dan berpengaruh besar pada perkembangannya, terutama saat berada di Kyoshi Island.

Hal yang sama terjadi pada Katara, yang menjadi lebih lembut, dan juga pada adegan kecintaan Uncle Iroh terhadap teh yang sebagian besar tampak hilang.

Secara umum, tampaknya tim produksi membuat live action Avatar: The Last Airbender dengan tema yang lebih matang, sehingga menghilangkan banyak unsur kesenangan dari versi animasinya.

Pada akhirnya, live action Avatar: The Last Airbender adalah hasil dari adaptasi, bukan remake dari animasinya. Live action ini berhasil menggabungkan kisah yang tetap membangkitkan kenangan penggemar dengan penceritaan yang lebih luas dan baru.

Enam tahun yang diinvestasikan untuk serial ini, dari pengumuman pada tahun 2018 hingga penayangan, tampaknya digunakan dengan baik untuk penelitian, pemilihan pemain, persiapan seni bela diri, kostum, hingga efek visual, terutama pada elemen bending.

Sebagai saran, sebaiknya beri kesempatan bagi penonton untuk menikmati serial ini sendiri, meskipun mungkin sudah membaca ulasan kurang positif dari para kritikus.

Meskipun tidak sempurna, terutama dalam mengubah penceritaan, live action ini tetap memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi penggemar lama, dan dengan mudah dapat diikuti oleh penonton baru, sehingga keduanya dapat menikmati dunia Avatar: The Last Airbender. (es)

– Meskipun mendapat kritik yang kurang baik dari para pengkritik, live action Avatar: The Last Airbender telah menjadi serial yang benar-benar saya nikmati hingga akhirnya. Nostalgia sangat kuat dirasakan oleh para penggemar animasi yang ditayangkan hampir dua dekade yang lalu.

Mengadaptasi animasi legendaris yang sangat dicintai oleh para penggemar selama bertahun-tahun tentu bukan tugas yang mudah dan merupakan tanggung jawab besar bagi tim produksi dan para bintangnya.

Mereka harus tetap mampu menghibur para penggemar dan membangkitkan kembali kenangan dengan tayangan favorit, sekaligus menarik perhatian penonton baru.

Serial yang dikembangkan oleh Albert Kim ini jelas terlihat berusaha mempertahankan inti cerita Book One: Water versi aslinya dalam live action, meskipun dengan pendekatan penceritaan dan perspektif yang baru.

Perbedaan dalam penceritaan terasa sejak opening credits hingga penutup episode kedelapan musim pertama.

Hal ini menghasilkan penambahan beberapa karakter yang sebelumnya tidak muncul dalam Book One, namun muncul dalam musim pertama live action Avatar: The Last Airbender.

Meskipun demikian, perubahan-perubahan tersebut berhasil menyatu dengan baik dengan alur cerita versi asli. Demikian juga dengan penambahan cerita yang mendalam untuk mengenali lebih baik para karakter, yang tetap sangat dinikmati.

Pendalaman karakter dan sudut pandang baru ini terutama terasa kuat untuk kisah Air Nomads, khususnya saat Aang bersama Gyatso, serta Zuko dan prajurit Negara Api yang menemaninya.

Meskipun memiliki penceritaan yang berbeda, tim produksi berhasil menjaga visual dalam live action tetap memikat. Penggambaran dari setiap suku, termasuk lokasi, pakaian, dan properti mereka, benar-benar setia dengan versi animasinya.

Apresiasi saya diberikan kepada tim casting. Bintang-bintang muda seperti Gordon Cormier, Kiawantiiio, Ian Ousley, dan Dallas Liu berhasil dengan baik membawakan karakter masing-masing, yaitu Aang, Katara, Sokka, dan Zuko.

Pilihan untuk menghadirkan aktor dengan usia yang tidak jauh dari karakter asli membuat adaptasi terasa alami. Gordon, sebagai Aang, terlihat sangat menyenangkan, menciptakan suasana seperti anak seusianya dengan semua tingkah laku khasnya.

Khususnya, saya memberikan penghargaan kepada Dallas Liu. Dalam beberapa kesempatan, ia mengungkapkan dirinya sebagai penggemar animasi Avatar: The Last Airbender, yang terbukti dalam perannya sebagai pewaris takhta Negara Api. Dallas Liu berhasil membawakan karakter Zuko dengan baik.

Pujian setinggi-tingginya juga saya tujukan kepada dua aktor senior, Paul Sun-Hyung Lee dan Lim Kay Siu, yang memerankan Uncle Iroh dan Monk Gyatso dengan sangat baik. Kehadiran mereka selalu berhasil menciptakan adegan yang penuh emosi.

Begitu juga dengan Arden Cho sebagai June dan Maria Zhang sebagai Suki.

Unsur lain yang memicu rasa nostalgia para penggemar adalah skoring dan efek suara yang begitu akrab di telinga. Tim produksi tanpa ragu memasukkan instrumental untuk salah satu adegan paling menyedihkan dalam serial, baik versi animasi maupun live action.

Aspek lain yang patut diapresiasi adalah bending (pengendalian elemen). Tim produksi dan para pemain terlihat bekerja keras untuk memastikan bending terlihat nyata di depan kamera, melalui latihan seni bela diri yang intens, didukung oleh CGI dan VFX yang mulus.

Meski menghibur, live action ini tetap memiliki beberapa catatan. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah perubahan dalam penceritaan dan karakter tertentu.

Perubahan secara keseluruhan dalam penceritaan dan perspektif masih dapat diterima. Namun, tidak dapat disangkal bahwa ada beberapa adegan yang disayangkan diubah, seperti perjalanan Aang, Katara, dan Sokka di Omashu.

Reuni Aang dan Raja Bumi seharusnya menjadi salah satu momen yang sangat menyenangkan dalam Book One. Namun, sayangnya, banyak bagian yang diubah oleh tim produksi, termasuk cara Aang mengingat Bumi, gim-gim yang diberikan oleh Bumi, hingga karakter Bumi itu sendiri.

Tim produksi juga meredam beberapa karakter, terutama Sokka. Meskipun Ian Ousley berhasil memberikan sentuhan humor pada karakternya, unsur seksisme Sokka hilang dalam live action. Padahal, sifat ini sangat melekat pada karakter Sokka dan berpengaruh besar pada perkembangannya, terutama saat berada di Kyoshi Island.

Hal yang sama terjadi pada Katara, yang menjadi lebih lembut, dan juga pada adegan kecintaan Uncle Iroh terhadap teh yang sebagian besar tampak hilang.

Secara umum, tampaknya tim produksi membuat live action Avatar: The Last Airbender dengan tema yang lebih matang, sehingga menghilangkan banyak unsur kesenangan dari versi animasinya.

Pada akhirnya, live action Avatar: The Last Airbender adalah hasil dari adaptasi, bukan remake dari animasinya. Live action ini berhasil menggabungkan kisah yang tetap membangkitkan kenangan penggemar dengan penceritaan yang lebih luas dan baru.

Enam tahun yang diinvestasikan untuk serial ini, dari pengumuman pada tahun 2018 hingga penayangan, tampaknya digunakan dengan baik untuk penelitian, pemilihan pemain, persiapan seni bela diri, kostum, hingga efek visual, terutama pada elemen bending.

Sebagai saran, sebaiknya beri kesempatan bagi penonton untuk menikmati serial ini sendiri, meskipun mungkin sudah membaca ulasan kurang positif dari para kritikus.

Meskipun tidak sempurna, terutama dalam mengubah penceritaan, live action ini tetap memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi penggemar lama, dan dengan mudah dapat diikuti oleh penonton baru, sehingga keduanya dapat menikmati dunia Avatar: The Last Airbender. (es)

#Menuju Perusahaan Pers yang Sehat dan Profesional

By Dika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *