MeutiaraNews.co – Sudah 5 hari berlalu, namun sebagian publik masih belum selesai memperbincangkan ihwal kecelakaan KA Argo Bromo dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur, pada Senin, 27 April 2026.

‎Hingga saat ini, tercatat sebanyak 107 korban, terdiri dari 16 meninggal dunia dan 91 luka-luka atas insiden tersebut.

‎Dari jumlah tersebut, 43 penumpang telah diperbolehkan pulang, sementara sisanya masih menjalani perawatan di rumah sakit.

‎Tak ayal, peristiwa itu termasuk menjadi salah satu kecelakaan kereta api paling memilukan dalam beberapa waktu terakhir.

‎Kini, ada sebuah kisah yang menyentuh hati datang dari Nureqi Satriani sebagai seorang ibu sekaligus pengguna KRL dengan rute Bekasi Timur.

‎Sang Ibu: Malaikat Penyelamatku

‎Melalui unggahan akun Instagram @nureqisp, pada Kamis, 30 April 2026, Nureqi bercerita dirinya mengaku bersyukur karena terhindar dari musibah kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur.

‎Nureqi menyebut, hal tersebut berkat firasat dari sang anak sebelum insiden itu terjadi pada hari yang sama.

‎”Malaikat penyelamatku,” tulisnya.

‎”Ini video pagi tanggal 27 April 2026,” tambah Nureqi.

‎Penuturan warga yang selamat dari insiden KA Argo Bromo vs KRL di wilayah Bekasi itu sontak menyita perhatian warganet hingga videonya viral di media sosial.

‎Isak Tangis yang Tak Biasa

‎Dalam penuturannya, Nureqi menuturkan peristiwa itu berawal pada pagi hari, ketika anaknya merengek tidak ingin ibunya pergi bekerja sendirian.

‎Kala itu, sang ibu menceritakan bagaimana firasat sang anak secara tidak langsung menyelamatkan nyawa mereka.

‎”Akhirnya aku bawa bocah ini kerja, dan pulang kita naik mobil,” ungkapnya.

‎”Biasanya aku pasti KRL kawal bawa dia, karena dia suka naik kereta,” tambah Nureqi.

‎Bukan KRL, Sang Anak Pilih Naik Mobil

‎Pada sore hari ketika dirinya bersama sang anak hendak pulang ke rumah, Nureqi sempat menanyakan kembali keinginan sang anak.

‎”Aku kasih pertanyaan, Kamu mau naik apa punya? naik kereta atau mobil? Terus dia bilang Mama naik mobil aja,” terangnya.

‎”Aku ulang sampai 3 kali akhirnya naik mobil,” sebut Nureqi.

‎Nureqi lantas mengakui kejanggalan tentang keinginan sang anak itu menjadi penyelamat mereka di hari yang sama, saat kecelakaan maut terjadi di Stasiun Bekasi Timur.

‎”Biasanya anak ini nangis minta naik kereta, tapi hari itu berbeda,” tuturnya.

‎”Ini pertama kalinya dia tidak pernah nangis gini, biasanya salim terus bilang ‘hati-hati Mama’,” tukas Nureqi.***

#Menuju Perusahaan Pers yang Sehat dan Profesional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *